Text
Menangani Trauma dan Gangguan Kepribadian pada Anak
Pengalaman traumatik pada masa anak-anak mengakibatkan gangguan kepribadian seseorang ketika ia dewasa. Hal ini terbukti jika semakin seringnya seorang anak mendapat tindakan kekerasan (child abuse) baik kekerasan fisik (physical abuse), kekerasan seksual (sexual abuse) dan kekerasan emosional (emotional abuse) maupun kelalaian (neglec) maka ia akan mengalami trauma yang berdampak secara psikologis pada perilaku dan gangguan kepribadiannya.
Sebagian gangguan kepribadian tidak hanya berasal dari pengalaman traumatik, tetapi juga dikarenakan adanya faktor genetik, lingkungan, hereditas, psikologis dan sosial.
Beberapa penemuan dalam penelitian ini membuktikan bahwa traumatik berakibat terhadap gangguan kepribadian. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gangguan kepribadian dan faktor-faktor yang menyebabkannya, yakni: menyalahkan diri sendiri (self blame), ketidakberdayaan (powerlessness), perasaan kehilangan dan dikhianati (loss and betrayal), fragmentasi pengalaman badani (fragmentation of bodily experience), perilaku merusak (destruktiveness), gangguan kepribadian ganda (disasosiatif) dan gangguan hubungan interpersonal intim.
Melalui pendekatan traumagenik, pengalaman traumatik ternyata berdampak secara psikologis terhadap gangguan kepribadian mereka baik ditinjau dari aspek afeksi, konasi dan kognisi, serta faktor-faktor penyebabnya yang berakibat adanya gangguan kepribadian seperti: cemas (anxiety), paranoid (paranoid personality disorders), antisosial (antisosial personality disorders), dan menghindar (avoidant).
Tidak tersedia versi lain